jump to navigation

Analisis Rambut Bisa Melacak Pelaku Kejahatan Februari 28, 2008

Posted by spanautama in KABAR UTAMA.
add a comment
Analisis Rambut Bisa Melacak Pelaku Kejahatan
Artikel Terkait:
Selasa, 26 Februari 2008 | 17:23 WIB

CHICAGO, SELASA – Sejumlah ilmuwan di AS telah sukses mengembangkan metode untuk mengidentifikasi dan melacak perjalanan hidup seseorang dengan menganalisis satu lembar rambutnya. Cara ini mungkin berguna bagi penyelidik kejahatan yang sedang berusaha mengidentifikasi mengidentifikasi satu mayat atau melacak pelaku kejahatan.

Misalnya untuk melacak tempat tinggal pelaku kriminal. Mereka mengatakan keragaman dalam isotop oksigen dan hidrogen yang ditemukan pada rambut dapat dicocokkan dengan kandungan unsur kimia dalam air minum yang dialirkan di wilayah tempat tinggalnya.

“Pada orang yang berambut sangat panjang, anda dapat memperoleh sejarah yang sangat panjang,” kata ahli geologi University of Utah, Thure Cerling, yang temuannya disiarkan di jurnal Proceedings of National Academy of Sciences, Senin (25/2). Alat tersebut akan berhasil baik pada contoh rambut yang diambil dari kepala karena rambut tumbuh terus di sana.

Untuk mendukung sistem tersebut, Cerling bersama koleganya, James Ehleringer, seorang profesor biologi University of Utah mengembangkan peta terperinci mengenai perbedaan kandungan isotop oksigen dan hidrogen di berbagai wilayah. Mereka mengukur berdasarkan contoh air keran dari 65 kota besar di Amerika Serikat.

Untuk melakukan itu, Ehleringer mengirim istrinya dan seorang teman untuk melakukan perjalanan darat guna mengumpulkan contoh rambut dan air dari tukang pangkas rambut di berbagai kota kecil di negara bagian selatan, tengah dan barat-daya AS. Sementara, anak-anak Cerling melakukan kegiatan tersebut di bagian utara AS. Mereka hanya mengumpulkan contoh dari berbagai kota besar yang memiliki 100.000 warga atau lebih sedikit lagi guna menjamin bahwa contoh rambut berasal dari penduduk setempat dan bukan wisatawan.

Tanda isotop

Ia mengatakan air minum meninggalkan tanda isotop pada rambut yang tumbuh. Bahkan orang yang minum air botol masih menggunakan air keran untuk membuat kopi atau teh atau memasak kue, katanya. Para peneliti itu mengatakan kandungan isotop dalam air minum bervariasi akibat perbedaan curah hujan dan penguapan regional.

Personil polisi sudah menggunakan alat tersebut guna membantu mengidentifikasi orang yang mungkin menjadi korban pembunuhan. Todd Park, seorang detektif di kantor sheriff Salt Lake County, Utah, mengirimi Ehleringer contoh rambut dari seorang perempuan yang mayatnya ditemukan di dekat Great Salt Lake pada Oktober 2000.

Satu analisis isotop pada rambut korban memperlihatkan ia telah berpindah-pindah ke beberapa negara bagian di Northwest. Para peneliti itu berencana melakukan analisis atas giginya guna mengetahui apakah isotopnya dapat mengungkap di mana ia dibesarkan ketika gigi tersebut terbentuk.

“Setiap sedikit bantuan tentu saja sesuatu yang akan memberi kami potongan teka-teki,” kata Park. Metode tersebut telah menarik banyak perhatian dari polisi, tapi Cerling mengatakan alat itu juga dapat digunakan dalam antropologi dan arkeologi.

“Saya juga berpendapat itu akan memiliki penerapan yang menarik dalam pelestarian suaka,” katanya.(ANT/WAH)

Perban Ginjal Februari 28, 2008

Posted by spanautama in KESEHATAN, SCIENCE NEWS.
add a comment
Perban Ginjal Terinspirasi Kaki Tokek
Artikel Terkait:
Selasa, 19 Februari 2008 | 18:46 WIB

CHICAGO, SENIN – Kemampuan tokek menggantung di langit-langit telah menarik perhatian para ilmuwan dan mengembangkan teknologi untuk meniru cara kerjanya. Baru-baru ini, teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membuat perban super lengket dan tahan air.

“Apa yang kami lakukan adalah meniru apa yang dilakukan tokek,” ujar Robert Langer, seorang profesor di Institut Teknologi Massachusetts, seperti dilansir Reuters, Senin (18/2). Teknologi perban yag dikembangkannya dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences terbaru.

Perban tersebut terbuat dari material karet bio khusus yang dikembangkannya bersama Jeff Karp dari Sekolah Kedokteran Harvard. Mereka menggunakan teknologi komputer untuk merangkai lapisan demi lapisan material tersebut sehingga membentuk lekukan yang memperkuat daya rekat adhesi dengan permukaan basah.

Langer dan Rapp menambahkan lapisan tipis perekat dari gula sehingga perban tersebut sangat lengket jika ditempelkan ke permukaan basah. Pada pengujian terhadap organ pencernaan babi, kekuatan rekatnya dua kali lipat daripada perban sejenis yang permukaannya datar.

Sifatnya juga biodegradable sehingga ramah lingkungan dan aman dipakai di tubuh manusia. Bahkan, perban tersebut mungkin dapat dipakai untuk menutup luka di dalam tubuh, misalnya permukaan jaringan paru-paru, ginjal, atau jantung yang butuh perawatan karena penyakit.

“Anda dapat juga meletakkan obat di permukaannya dan menggunakan perban tersebut sebagai agen penyalur antarsel,” tandas Langer.(REUTERS/WAH)

“Kubah Kiamat” Februari 28, 2008

Posted by spanautama in KABAR UTAMA, SCIENCE NEWS.
add a comment
“Kubah Kiamat” di Kutub Utara Mulai Difungsikan
Ilustrasi Kubah Kiamat yang dibangun di dalam perut gunung di Kepulauan Svalbard, Norwegia.
Artikel Terkait:
Selasa, 26 Februari 2008 | 21:17 WIB

LONGYEARBYEN, SELASA – Sebuah bangunan sangat kuat yang dibangun di Kutub Utara untuk menyimpan biji-bijian dari seluruh dunia resmi difungsikan. Fasilitas yang disebut sebagai Kubah Kiamat (Doomsday Vault) ini dibuat di dalam sebuah gunung beku di Kepulauan Svalbard, Norwegia, 1100 kilometer dari kutub utara.

Disebut kubah kiamat karena pembangunannya dimaksudkan untuk melindungi plasma nutfah. Jika terjadi bencana alam yang sangat besar hingga memusanhkan sumber pangan, biji-bijina tersebut diharapkan menjadi penyelamat manusia dari kelaparan.

“Svalbard Global Seed Vault merupakan kebijakan penyelamatan kami. Ini adalah ‘Bahtera Nuh’ untuk melindungi keragaman biologi generasi masa depan,” ujar Perdana Menteri Norwegia Jens Stoltenberg, dalam upacara pembukaan, Selasa (26/2). Pembukaan fasilitas ini juga dihadiri Presiden Komisi Eropa, Jose Manual Barroso, dan penerima Nobel Perdamaian 2004, Wangari Maathai, dari Kenya.

Kubah yang berada di dalam perut gunung sedalam 127,5 meter tersebut akan menyimpan cadangan bibit dari ratusan bank benih dari seluruh dunia. Ruangan di dalamnya dapat memuat 4,5 juta sampel benih.

Kubah Kiamat dibangun atas prakarsa Global Crop Diversity Trust, lembaga yang didanai badan PBB untuk urusan pangan atau FAO (Food and Agriculture Organization), dan Biodiversity Internasional yang berbasis di Roma, Italia. Bangunan tersebut dibuat selama satu tahun dengan biaya pembangunan mencapai 9,1 juta dollar AS.(AP/WAH)

Ensiklopedia Online Februari 28, 2008

Posted by spanautama in SCIENCE NEWS.
add a comment
Ensiklopedia Online Targetkan Informasi Seluruh Spesies
Halaman informasi spesies di Encyclopedia of Life.
Artikel Terkait:
Rabu, 27 Februari 2008 | 17:29 WIB

JAKARTA, SELASA – Ensiklopedia yang berisi informasi lengkap mengenai keragaman biologi di dunia mulai tersedia cuma-cuma secara online. Proyek yang digarap sejak tahun 2003 telah mempublikasikan informasi pertamanya mulai Selasa (26/2).

Situs yang diberi nama Encyclopedia of Life ini bertujuan menyajikan informasi selengkap-lengkapnya mengenai 1,8 juta spesies yang telah teridentifikasi di seluruh dunia. Sejauh ini sudah tercatat sekitar satu juta spesies.

Sebagain besar masih menyajikan informasi minimal. Hanya 300.000 spesies yang menyajikan infromasi cukup lengkap berkat database dari berbagai situs lembaga resmi yang mengijinkan untuk berbagai informasi, seperti Solanaceae Source, Fish Base, dan AmphibiaWeb. 24 halaman sudah menyajikan informasi yang kaya dengan konten berbasis multimedia.

Halaman lengkap diperkirakan rampung pada tahu 2017. Tahun lalu, proyek ini mendapat suntikan dana 2,5 juta dollar AS dari yayasan Alfred P Sloan, New York dan 50 juta dollar As dari Yayasan John D dan Catherine T MacArthur, Chicago, AS.

“Tantangan terbesarnya adalah menyiapkan insentif bagi komunitas ilmiah untuk berpartsisopasi,” ujar James Edward, direktur eksekutif proyek tersebut. Saat ini, pihaknya masih berjuang agar pemuatan artikel di halaman situs tersebut bisa dinilai seperti publikasi ilmiah sehingga menarik minat para akademisi.

Selain itu, skema pendanaan berikutnya juga menjadi masalah lainnya. Pengelola harus dapat memastikan penyandang dana tetap tertarik untuk mendukung proyek jangka panjang tersebut.

Peluncuran resmi situs ensiklopedia baru tersebut akan dilakukan pada konferensi TED (Technology, Entertainment, Design) di Monterey, California minggu ini. Situs tersebuit dapat diakses di www.eol.org(NATURE/WA

Peradaban Peru Setua Mesir dan Mesopotamia Februari 28, 2008

Posted by spanautama in SCIENCE NEWS.
2 comments
Peradaban Peru Setua Mesir dan Mesopotamia
Artikel Terkait:
Rabu, 27 Februari 2008 | 15:42 WIB

LIMA, SELASA – Sebuah pelataran untuk upacara berumur 5.500 tahun ditemukan di dekat pantai utara Peru. Pelataran tersebut merupakan monumen tertua yang pernah ditemukan di sana.

Penemuan ini sekaligus menjelaskan bahwa peradaban di Peru juga setua peradaban di India, Mesopotamia,  maupun di Mesir. Pengukuran isotop karbon menunjukkan bahwa material dari situs tersebut dibuat antara 3500-3000 tahun sebelum Masehi.

Situs tersebut ditemukan pertama kali tahun 2001 di Kota kuno Caral oleh gabungan tim arkeolog Jerman dan Peru. Pelataran berbentuk melingkar dibuat dengan batu kali dan batu merah.

Bangunan ini merupakan bagian dari kompleks arkeologi di kaki Gunung Andes yang terletak 330 kilometer arah barat laut ibukota Peru, Lima.

Umur pelataran tersebut lebih tua dari monumen-monumen sejensi yang juga ditemukan di Caral.  Kota yang sebelumnya diperkirakan lahir 2627 sebelum Masehi selama ini diyakini sebagai kota tertua di Benua Amerika.

“Pelataran ini menyediakan ruang sosial dan ritual tempat masyarakat kuno merayakan keyakinannya mengenai dunia, tempat hidupnya, dan gambaran dunia serta masyarakatnya,” ujar Peter Fuchs, arkeolog Jerman yang memimpin penggalian, seperti dikutip AP, Selasa (26/2).  dari bangunan berumur 1800 tahun di dekat lokasi situs, arkeolog juga menemukan hiasan dinding dari lempung setinggi 2 meter yang menggambarkan ritual pengorbanan manusia.

Situs tersebut membuktikan bahwa peradaban Caral sudah ada 1500 tahun lebih awal dari perkiraan semula. Temuan ini menegaskan bahwa penduduk di Benua Amerika memiliki kemampuan mengembangkan peradaban sebaik penduduk di belahan Bumi lainnya.(AP/WAH)

Tiga Pintu Kematian Februari 28, 2008

Posted by spanautama in SCIENCE NEWS.
add a comment
Tiga Pintu Kematian dari Periode Suram Mesir Kuno
Para arkeolog menemukan tiga pintu kematian di dalam makam Mesir Kuno di necropolis dari awal Periode Tengah antara 2160-2055 sebelum Masehi.
Artikel Terkait:
Rabu, 27 Februari 2008 | 18:30 WIB

JAKARTA, RABU – Di dalam makam Mesir Kuno yang baru ditemukan di bekas kota Herakleopolis, para arkeolog menemukan tiga buah pintu kematian. Pintu bohong-bohongan di dinding makam itu selama ini diketahui sebagai portal untuk berkomunikasi dengan alam kubur dalam kepercayaan bangsa Mesir Kuno.

Makam tersebut berasal dari awal Periode Tengah yang berlangsung antara 2160-2055 sebelum Masehi. Periode ini dikenal sebagai masa suram yang diwarnai perseteruan dan perebutan kekuasaan, namun tak banyak benda peninggalan dari periode tersebut.

Kota Herakleopolis yang kini berada di wilayah Ihnasya el-Medina merupakan pusat kekuasaan kerajaan dinasti IX dan X. Kerajaan mengalmai kemunduran akibat terpecah-pecah di akhir Kerajaan Tua. Pengasa lokal kemudian melawan kakuasaan dan membentuk Kerajaan Tengah.

Simbol berbentuk persegi panjang sebesar pintu seperti ini memang umum ditemui pada makam kuno di Mesir. Namun, penemuan tiga pintu kematian ini memberikan informasi lebih banya bagi para arkeolog mengenai budaya, hasil seni, dan peristiwa-peristiwa sepanjang periode tersebut.

“Pintu palsu merupakan tempat interaksi manusia yang masih hidup dan mati. Ini sesungguhnya pintu masuk bagi nyawa untuk masuk dan keluar alam akhirat,” ujar salah satu peneliti, Salima Ikram, prosesor ilmu Mesir Kuno dari Universitas Amerika Kairo, Selasa (26/2). Bagian-bagian pintu dicat dengan warna khas biru dan merah.

Pintu yang terbuat dari tanah liat diukir kalimat-kalimat religius serta nama dan jabatan jenazah yang disemayamkan di dalam makam. Salah satunya tertulis Khety, nama salah satu raja dinasti IX dan X. Pintu lainnya mungkin menunjukkan orang-orang kepercayaan yang masih dalam lingkaran kerajaan.(NG/WAH)

<!–Print Email –>

komentar anda

Permukaan Mars Isyaratkan Jejak Air Tanah Februari 28, 2008

Posted by spanautama in SCIENCE NEWS.
add a comment
Permukaan Mars Isyaratkan Jejak Air Tanah
Foto Planet Mars yang direkam Teleskop Ruang Angkasa Hubble pada 26 Juni 2001.
Rabu, 27 Februari 2008 | 16:45 WIB

JAKARTA, RABU – Sejumlah ilmuwan menyatakan pola permukaan Planet Mars mengisyaratkan adanya air tanah pada masa lalu. Saat curahan air tawar mengisi ngarai curam, hal tersebut akan membentuk resapan endapan dan menyatukan banyak jalur besar.

“Air tanah barangkali memainkan peran utama dalam pembentukan banyak hal yang kita saksikan di permukaan Mars,” kata George Postma, ahli sedimentologi di Utrecht University di Belanda, seperti dilansir Selasa (26/2).

Para ilmuwan sebelumnya memperkirakan bahwa samudra luas pernah menutupi sepertiga Planet Mars. Foto satelit yang dirilis belum lama ini menunjukkan bahwa kantung-kantung air mungkin masih tersembunyi di bawah permukaan ‘Planet Merah’ tersebut.

“Air sangat penting bagi kehidupan. Jadi tanda air bawah tanah sekarang–dan jumlah air yang jauh lebih banyak pada masa lalu–menunjukkan Mars dulu, atau mungkin masih, dapat ditinggali, setidaknya oleh mikroorganisme,” katanya. Postma mengatakan waduk air semacam itu barangkali membentuk ngarai, dan sehingga menimbulkan timbunan lapisan sedimen seperti anak-tangga di Mars yang menghasilkan kawah di seluruh planet tersebut.

Menurut Allan Treiman, ilmuwan di Lunar and Planetary Institute di Houston, air tanah adalah waduk penting dalam lingkaran air global di Mars dan memainkan peran penting dalam pengubahan lapisan batu. Di Valles Marineris, tempat jurang berjarak 4.000 kilometer membuat Grand Canyon jadi kelihatan kerdil membentang di seluruh Mars, Allan Treiman menduga ia telah menemukan lebih banyak bukti mengenai air tanah dalam pekerjaannya.

Ngarai Valles Marineris terbentuk ketika lempeng batu yang sangat besar tercabut dan tengelam, sehingga menciptakan jalur besar dalam prosesnya. Citra satelit terhadap bentuk permukaan memperlihatkan celah seperti jembatan, yang Treiman menduga terisi air tanah yang kaya akan mineral antara 3,5 juta dan 1,8 miliar tahun lalu.

“Penafsiran ini menunjukkan cairan itu stabil di atau di dekat permukaan Mars ketika daerah celah terbentuk,” kata Treiman. Ia menyatakan hanya cuaca “basah hangat” di Mars dapat menghasilkan timbunan tersebut.(ANT/WAH)