Perban Ginjal Februari 28, 2008
Posted by spanautama in KESEHATAN, SCIENCE NEWS.add a comment
CHICAGO, SENIN – Kemampuan tokek menggantung di langit-langit telah menarik perhatian para ilmuwan dan mengembangkan teknologi untuk meniru cara kerjanya. Baru-baru ini, teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membuat perban super lengket dan tahan air.
“Apa yang kami lakukan adalah meniru apa yang dilakukan tokek,” ujar Robert Langer, seorang profesor di Institut Teknologi Massachusetts, seperti dilansir Reuters, Senin (18/2). Teknologi perban yag dikembangkannya dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences terbaru.
Perban tersebut terbuat dari material karet bio khusus yang dikembangkannya bersama Jeff Karp dari Sekolah Kedokteran Harvard. Mereka menggunakan teknologi komputer untuk merangkai lapisan demi lapisan material tersebut sehingga membentuk lekukan yang memperkuat daya rekat adhesi dengan permukaan basah.
Langer dan Rapp menambahkan lapisan tipis perekat dari gula sehingga perban tersebut sangat lengket jika ditempelkan ke permukaan basah. Pada pengujian terhadap organ pencernaan babi, kekuatan rekatnya dua kali lipat daripada perban sejenis yang permukaannya datar.
Sifatnya juga biodegradable sehingga ramah lingkungan dan aman dipakai di tubuh manusia. Bahkan, perban tersebut mungkin dapat dipakai untuk menutup luka di dalam tubuh, misalnya permukaan jaringan paru-paru, ginjal, atau jantung yang butuh perawatan karena penyakit.
“Anda dapat juga meletakkan obat di permukaannya dan menggunakan perban tersebut sebagai agen penyalur antarsel,” tandas Langer.(REUTERS/WAH)
Ensiklopedia Online Februari 28, 2008
Posted by spanautama in SCIENCE NEWS.add a comment
JAKARTA, SELASA – Ensiklopedia yang berisi informasi lengkap mengenai keragaman biologi di dunia mulai tersedia cuma-cuma secara online. Proyek yang digarap sejak tahun 2003 telah mempublikasikan informasi pertamanya mulai Selasa (26/2).
Situs yang diberi nama Encyclopedia of Life ini bertujuan menyajikan informasi selengkap-lengkapnya mengenai 1,8 juta spesies yang telah teridentifikasi di seluruh dunia. Sejauh ini sudah tercatat sekitar satu juta spesies.
Sebagain besar masih menyajikan informasi minimal. Hanya 300.000 spesies yang menyajikan infromasi cukup lengkap berkat database dari berbagai situs lembaga resmi yang mengijinkan untuk berbagai informasi, seperti Solanaceae Source, Fish Base, dan AmphibiaWeb. 24 halaman sudah menyajikan informasi yang kaya dengan konten berbasis multimedia.
Halaman lengkap diperkirakan rampung pada tahu 2017. Tahun lalu, proyek ini mendapat suntikan dana 2,5 juta dollar AS dari yayasan Alfred P Sloan, New York dan 50 juta dollar As dari Yayasan John D dan Catherine T MacArthur, Chicago, AS.
“Tantangan terbesarnya adalah menyiapkan insentif bagi komunitas ilmiah untuk berpartsisopasi,” ujar James Edward, direktur eksekutif proyek tersebut. Saat ini, pihaknya masih berjuang agar pemuatan artikel di halaman situs tersebut bisa dinilai seperti publikasi ilmiah sehingga menarik minat para akademisi.
Selain itu, skema pendanaan berikutnya juga menjadi masalah lainnya. Pengelola harus dapat memastikan penyandang dana tetap tertarik untuk mendukung proyek jangka panjang tersebut.
Peluncuran resmi situs ensiklopedia baru tersebut akan dilakukan pada konferensi TED (Technology, Entertainment, Design) di Monterey, California minggu ini. Situs tersebuit dapat diakses di www.eol.org(NATURE/WA
Peradaban Peru Setua Mesir dan Mesopotamia Februari 28, 2008
Posted by spanautama in SCIENCE NEWS.2 comments
LIMA, SELASA – Sebuah pelataran untuk upacara berumur 5.500 tahun ditemukan di dekat pantai utara Peru. Pelataran tersebut merupakan monumen tertua yang pernah ditemukan di sana.
Penemuan ini sekaligus menjelaskan bahwa peradaban di Peru juga setua peradaban di India, Mesopotamia, maupun di Mesir. Pengukuran isotop karbon menunjukkan bahwa material dari situs tersebut dibuat antara 3500-3000 tahun sebelum Masehi.
Situs tersebut ditemukan pertama kali tahun 2001 di Kota kuno Caral oleh gabungan tim arkeolog Jerman dan Peru. Pelataran berbentuk melingkar dibuat dengan batu kali dan batu merah.
Bangunan ini merupakan bagian dari kompleks arkeologi di kaki Gunung Andes yang terletak 330 kilometer arah barat laut ibukota Peru, Lima.
Umur pelataran tersebut lebih tua dari monumen-monumen sejensi yang juga ditemukan di Caral. Kota yang sebelumnya diperkirakan lahir 2627 sebelum Masehi selama ini diyakini sebagai kota tertua di Benua Amerika.
“Pelataran ini menyediakan ruang sosial dan ritual tempat masyarakat kuno merayakan keyakinannya mengenai dunia, tempat hidupnya, dan gambaran dunia serta masyarakatnya,” ujar Peter Fuchs, arkeolog Jerman yang memimpin penggalian, seperti dikutip AP, Selasa (26/2). dari bangunan berumur 1800 tahun di dekat lokasi situs, arkeolog juga menemukan hiasan dinding dari lempung setinggi 2 meter yang menggambarkan ritual pengorbanan manusia.
Situs tersebut membuktikan bahwa peradaban Caral sudah ada 1500 tahun lebih awal dari perkiraan semula. Temuan ini menegaskan bahwa penduduk di Benua Amerika memiliki kemampuan mengembangkan peradaban sebaik penduduk di belahan Bumi lainnya.(AP/WAH)
Tiga Pintu Kematian Februari 28, 2008
Posted by spanautama in SCIENCE NEWS.add a comment

JAKARTA, RABU – Di dalam makam Mesir Kuno yang baru ditemukan di bekas kota Herakleopolis, para arkeolog menemukan tiga buah pintu kematian. Pintu bohong-bohongan di dinding makam itu selama ini diketahui sebagai portal untuk berkomunikasi dengan alam kubur dalam kepercayaan bangsa Mesir Kuno.
Makam tersebut berasal dari awal Periode Tengah yang berlangsung antara 2160-2055 sebelum Masehi. Periode ini dikenal sebagai masa suram yang diwarnai perseteruan dan perebutan kekuasaan, namun tak banyak benda peninggalan dari periode tersebut.
Kota Herakleopolis yang kini berada di wilayah Ihnasya el-Medina merupakan pusat kekuasaan kerajaan dinasti IX dan X. Kerajaan mengalmai kemunduran akibat terpecah-pecah di akhir Kerajaan Tua. Pengasa lokal kemudian melawan kakuasaan dan membentuk Kerajaan Tengah.
Simbol berbentuk persegi panjang sebesar pintu seperti ini memang umum ditemui pada makam kuno di Mesir. Namun, penemuan tiga pintu kematian ini memberikan informasi lebih banya bagi para arkeolog mengenai budaya, hasil seni, dan peristiwa-peristiwa sepanjang periode tersebut.
“Pintu palsu merupakan tempat interaksi manusia yang masih hidup dan mati. Ini sesungguhnya pintu masuk bagi nyawa untuk masuk dan keluar alam akhirat,” ujar salah satu peneliti, Salima Ikram, prosesor ilmu Mesir Kuno dari Universitas Amerika Kairo, Selasa (26/2). Bagian-bagian pintu dicat dengan warna khas biru dan merah.
Pintu yang terbuat dari tanah liat diukir kalimat-kalimat religius serta nama dan jabatan jenazah yang disemayamkan di dalam makam. Salah satunya tertulis Khety, nama salah satu raja dinasti IX dan X. Pintu lainnya mungkin menunjukkan orang-orang kepercayaan yang masih dalam lingkaran kerajaan.(NG/WAH)
Permukaan Mars Isyaratkan Jejak Air Tanah Februari 28, 2008
Posted by spanautama in SCIENCE NEWS.add a comment
JAKARTA, RABU – Sejumlah ilmuwan menyatakan pola permukaan Planet Mars mengisyaratkan adanya air tanah pada masa lalu. Saat curahan air tawar mengisi ngarai curam, hal tersebut akan membentuk resapan endapan dan menyatukan banyak jalur besar.
“Air tanah barangkali memainkan peran utama dalam pembentukan banyak hal yang kita saksikan di permukaan Mars,” kata George Postma, ahli sedimentologi di Utrecht University di Belanda, seperti dilansir Selasa (26/2).
Para ilmuwan sebelumnya memperkirakan bahwa samudra luas pernah menutupi sepertiga Planet Mars. Foto satelit yang dirilis belum lama ini menunjukkan bahwa kantung-kantung air mungkin masih tersembunyi di bawah permukaan ‘Planet Merah’ tersebut.
“Air sangat penting bagi kehidupan. Jadi tanda air bawah tanah sekarang–dan jumlah air yang jauh lebih banyak pada masa lalu–menunjukkan Mars dulu, atau mungkin masih, dapat ditinggali, setidaknya oleh mikroorganisme,” katanya. Postma mengatakan waduk air semacam itu barangkali membentuk ngarai, dan sehingga menimbulkan timbunan lapisan sedimen seperti anak-tangga di Mars yang menghasilkan kawah di seluruh planet tersebut.
Menurut Allan Treiman, ilmuwan di Lunar and Planetary Institute di Houston, air tanah adalah waduk penting dalam lingkaran air global di Mars dan memainkan peran penting dalam pengubahan lapisan batu. Di Valles Marineris, tempat jurang berjarak 4.000 kilometer membuat Grand Canyon jadi kelihatan kerdil membentang di seluruh Mars, Allan Treiman menduga ia telah menemukan lebih banyak bukti mengenai air tanah dalam pekerjaannya.
Ngarai Valles Marineris terbentuk ketika lempeng batu yang sangat besar tercabut dan tengelam, sehingga menciptakan jalur besar dalam prosesnya. Citra satelit terhadap bentuk permukaan memperlihatkan celah seperti jembatan, yang Treiman menduga terisi air tanah yang kaya akan mineral antara 3,5 juta dan 1,8 miliar tahun lalu.
“Penafsiran ini menunjukkan cairan itu stabil di atau di dekat permukaan Mars ketika daerah celah terbentuk,” kata Treiman. Ia menyatakan hanya cuaca “basah hangat” di Mars dapat menghasilkan timbunan tersebut.(ANT/WAH)















