Ponsel Buatan Maret 3, 2008
Posted by spanautama in KABAR UTAMA, TEKNOLOGI.add a comment
TOKYO, KAMIS – Orang Jepang memang gila robot, sampai-sampai ponsel pun dibuat agar bisa berevolusi menjadi robot. Tentu tak secanggih robot-robot Transformers.
Sebuah ponsel yang segera dirilis Softbank Mobile Corp ini mungkin akan membangkitkan kembali memori Anda mengenai robot-robot mainan yang bisa diubah dari bentuk pesawat tempur, tank, atau mobil menjadi robot.
Ponsel Softbank 815TB (PhoneBraver) yang dibuat di pabrik Toshiba ini bentuknya seperti ponsel pada umumnya, bentuk flip dengan layar LCD di satu sisi dan tombol di sisi lainnya. Bedanya, di sisi kanan dan kirinya dapat ditarik menjadi dua tangan dan kaki.
Ponsel robot tersebut telah dilengkapi software kecerdasan buatan untuk mempelajari kebiasaan pemiliknya. Ponsel tersebut juga seolah-olah dapat berbiacra dengan pemiliknya.
“Jika penggunanya menelepon satu nomor berulang kali, maka akan muncul suara ‘Anda menelepon beberapa kali hari ini, benarkah?” kata Katsuhida Furuya, jurubicara Softphone. Pemilknya bisa berkomunikasi terbatas dengan jawaban ya dan tidak.
Ponsel tersebut belum bisa berjalan sendiri seperti robot-robot humanoid yang tekenal di Jepang. Namun, kaki dan tangannya bergoyang-goyang dan sendinya menekuk sehingga seolah-olah hidup. Ponsel tersebut baru akan dirilis April 2008.
Tri Wahono
Kelelawar Melayang Maret 3, 2008
Posted by spanautama in ANIMAL ACTION, KABAR UTAMA.1 comment so far
JAKARTA, SENIN – Dari segi ukuran, kelelawar mungkin terbang seperti seekor burung. Namun, caranya melayang di udara dalam waktu lama ternyata lebih mirip serangga.
Hewan malam yang lihai terbang di kegelapan itu memanfaatkan mekanisme arodinamika yang sama seperti serangga. Seperti dilaporkan dalam jurnal Science edisi terbaru, kekelawar mengandalkan pusaran udara horisontal yang disebut LEV (leading edge vortex) untuk menjaga tubuhnya tetap mengambang.
Tim peneliti gabungan dari Swedia dan AS mengungkap rahasia terbang melayang kelelawar setelah mempelajari dalam lorong angin. Para peneliti menaruh umpan di dalam ruangan dan melepaskan kelelawar. Kemudian, mereka merekam cara terbang kelelawar saat mendekati umpan menggunakan asap, laser, dan kamera yang dapat merekam gerakan sangat cepat.
Dari gerakan partikel-partikel asap, disimpulkan bahwa gaya dorong yang dihasilkan LEV menyumbangkan 40 persen gaya yang dibutuhkan untuk melayang. LEV terbentuk saat kelelawar mengepakkan sayapnya ke bawah. Hal tersebut menghasilkan gaya dorong ke atas yang cukup kuat sehingga kelelawar tidak jatuh saat melakukan gerakan lambat atau melayang, misalnya untuk mendekati mangsa.
Trik tersebut telah lama terbukti dilakukan serangga dan belum banyak terkuak peranannya untuk hewan bersayap yang lebih besar. Pada burung, LEV juga diketahui berperan penting, khususnya saat melakukan pendaratan sehingga nyaris tak pernah gagal. Pada kelelawar, teknik tersebut baru kali ini terbukti.
Kelelawar dapat mengendalikan posisi melayangnya menggunakan jari-jari yang menempel di membran kulit sayapnya. Gerakan jari akan mengubah sudut sayapnya, seperti fungsi flap (sirip) pada sayap pesawat terbang. Serangga tidak mungkin mengendalikan posisi melayang dengan trik yang sama seperti ini karena sayapnya kaku. Namun, serangga tetap dapat melakukannya dengan menggerakan sayap sangat cepat.
“Ini merupakan suatu informasi yang penting untuk mengetahui bagaimana menghasilkan sistem kendali berdasarkan bentuk sayap,” kata ketua tim peneliti, Anders Hadenstrom daru Universitas Lund, Swedia. Temuan tersebut mungkin dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan sayap pesawat terbang, misalnya pesawat-pesawat kecil untuk pemetaan.(BBC/WAH)












