jump to navigation

Kamera Tembus Baju Maret 10, 2008

Posted by spanautama in TEKNOLOGI.
add a comment
Perusahaan Inggris Kembangkan Kamera Tembus Baju
Kamera T5000 dipasang seperti CCTV, namun dapat memantau benda-benda di balik baju pengunjung yang lalu-lalang di depannya.
Artikel Terkait:
Senin, 10 Maret 2008 | 11:36 WIB

LONDON, MINGGU – Satu perusahaan di Inggris telah mengembangkan kamera yang bisa tembus baju. Dengan kamera tersebut, kamera dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi senjata, narkoba, obat-obatan, atau bahan peledak yang disembunyikan di balik pakaian dari jarak hingga 25 meter.

Kamera T5000 yang dibuat ThruVision menggunakan teknologi pencitraan pasif. Teknologi ini mengidentifikasi objek lewat sinar elektromagnetik alami–dikenal dengan nama Terahertz atau T-rays–yang dipancarkan benda tersebut. Kamera berkekuatan tinggi itu tetap efektif pada orang yang bergerak. Namun, kamera tersebut tidak akan menyingkap detail fisik tubuh dan proses pemindaiannya tidak berbahaya.

Teknologi yang bisa diterapkan untuk keperluan militer maupun sipil itu bisa digunakan di bandara yang ramai, mal belanja atau untuk kegiatan olahraga. Kamera tersebut akan diperkenalkan pada pameran kemajuan ilmu pengetahuan yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri Inggris pada 12-13 Maret.

“Aksi terorisme telah menggoncang dunia pada tahun-tahun ini dan langkah pencegahan keamanan sudah diperketat secara global,” kata Clive Beattie, direktur eksekutif ThruVision. “Kemampuan untuk melihat benda metalik maupun non-metalik pada orang-orang sampai jarak 25 meter tentu merupakan kemampuan kunci yang akan meningkatkan setiap sistem keamanan komprehensif.”

ThruVision menghasilkan teknologi untuk T5000 dengan kerjasama dari Badan Angkasa Eropa dan dari penelitian para astronom yang mengamati bintang-bintang sekarat. Teknologi itu berfungsi dengan asumsi bahwa setiap orang dan benda memancarkan radiasi elektromagnetik berkadar rendah.

Sinar Terahertz berada di antara infra merah dan gelombang-mikro pada spektrum elektromagnetik. Setiap bahan memiliki gelombang yang berbeda sehingga bahan peledak bisa dibedakan dengan setumpuk tanah liat, begitu pula kokain bisa dibedakan dari tepung terigu.(ANT/WAH)

Kompor Matahari, Alternatif Hemat Bahan Bakar Maret 10, 2008

Posted by spanautama in TEKNOLOGI.
add a comment
Kompor Matahari, Alternatif Hemat Bahan Bakar
Minggu, 9 Maret 2008 | 12:43 WIB

MALANG, MINGGU- Kompor matahari yang dikembangkan peneliti dari jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Malang, Jatim, Dr M Nurhuda bisa menjadi alaternatif di zaman bahan bakar minyak makin mahal.

Menurut Dr M Nurhuda, Minggu (9/3), kompor (pemasak) matahari tidak memerlukan bahan bakar sama sekali, bebas asap, serta ramah lingkungan. Teknologinya juga memungkinkan dikembangkan dalam skala besar untuk membantu masyarakat kurang mampu yang akhir-akhir ini terlilit dengan harga BBM. \

“Di negara-negara seperti India, China, dan negara-negara Afrika tengah serta Amerika Latin,  pemasak matahari banyak digunakan oleh masyarakat di wilayah pedesaan dan terpencil. Kami berharap rekayasa teknologi murah dan simpel ini bisa dikembangkan untuk membantu masyarakat miskin,” katanya di Malang.

Secara garis besar, ada dua jenis pemasak matahari, yakni tipe kotak (box) dan tipe parabola. Tipe kotak banyak dipergunakan di Amerika Latin dan tipe parabola banyak dikembangkan di China serta digunakan untuk memasak dalam jumlah besar.

Ia mengakui, tipe kotak sangat simpel dalam mengoperasikannya, tetapi lambat sehingga dijuluki very slow solar cooker. Untuk memasak nasi menggunakan tipe tersebut diperlukan waktu setidaknya 3-5 jam, sehingga tidak praktis untuk sebagian besar masyarakat Indonesia.

Sedangkan kompor tipe parabola secara umum memerlukan waktu lebih  cepat, tetapi lebih ruwet cara mengoperasiakannya. Pertama, posisi panci harus ditempatkan menggantung pada titik fokus parabola, kedua, parabola harus terus menghadap matahari sehingga setiap saat perlu penyesuaian arah parabola agar dapat memperoleh sinar pantul secara maksimum dan selalu pada titik fokus.

Selain itu, pemasak matahari tipe parabola pembuatannya membutuhkan banyak biaya. Sebagai contoh, kompor tipe parabola yang diproduksi Minto asal Madiun memerlukan banyak sekali cermin datar, kerangka parabola, solar tracking yang semuanya membutuhkan biaya sekitar Rp1,5 juta per unit.  Kalau dijual, harganya menjadi sekitar Rp 3,5 juta per unit.

Melihat kenyataan tersebut, pemasak matahari tipe kotak lebih efisien untuk diterapkan. ”Pada awalnya kami mencontoh saja desain yang banyak dijumpai di internet san ternyata pemasak matahari tersebut tidak dapat berfungsi, beras yang kami masak dari jam 09.00 sampai dengan jam 15.00 tak juga matang,” katanya.

Setelah mempelajari dengan serius sebab-sebab kenapa pemasak matahari  tidak dapat berfungsi, akhirnya muncul ide untuk mengoptimalkan bentuk panci. Intinya, bentuk panci harus bisa menyerap energi matahari sebesar-besarnya serta kontak antara panci dan air dan beras harus diusahakan agar semaksimum mungkin, sehingga panas dari panci dapat tersalur ke air secara maksimal dan paling bagus dibuat dengan cara cor-logam.

Sistem pemasak tersebut telah diujicobakan dan berhasil menanak nasi dalam waktu antara 1- 2 jam, tergantung pada terik matahari. Pada hari terik, waktu memasak cuma satu jam, tetapi ada  mendung,  bisa sampai dua jam.

Cara pengoperasian pemasak matahari tipe kotak yang dikembangkan cukup praktis dan sederhana yakni dengan cara beras yang sudah dicuci dimasukkan ke dalam panci berisi air kemudian panci dimasukkan ke dalam kotak, kotak ditutup  kaca transparan, tunggu kira-kira 1- 2 jam, tergantung pada intensitas matahari, maka beras akan masak dengan sendirinya, tanpa perlu beras dibolak-balik. Selain untuk memasak nasi, katanya, kompor matahari  juga dapat digunakan untuk memasak air dan saat ini teko untuk kompor matahari masih dalam proses pembuatan termasuk penggorengan.

Dana untuk pembuatan alat pemasak dari tenaga matahari tersebut nantinya diperkirakan tak lebih dari Rp. 300.000. ”Sejalan dengan semakin mahalnya BBM, kami berharap pemerintah mengambil alih desain yang kami kembangkan untuk disosialisasikan pada masyarakat, kami hanya ingin membantu masyarakat terutama yang kurang mampu agar mereka tidak lagi  tergantung pada Mitan lagi,” katanya menegaskan.

Spesifikasi kompor matahari yang dikembangkan adalah ukuran kotak 50 cm x 50 cm x 20 cm (tinggi),  jumlah kaca reflektor tiga potong, kaca samping luas 60 x 55 cm, kaca belakang 55x 55 cm (untuk reflektor paling bagus adalah aluminium foil yang dilapisi lapisan anti oksidasi (coating) seperti reflektor lampu mobil, landasan panci 45 x 45 cm, tinggi 10 cm dan bagian luar panci dicat hitam. (ANT)

Ikan Kod Antartika Tidur di Musim Dingin Maret 10, 2008

Posted by spanautama in ANIMAL ACTION.
add a comment
Ikan Kod Antartika Tidur di Musim Dingin
Ikan kod di Antartika (Notothenia coriiceps) melakukan torpid, atau tidur panjang semacam hibernasi pada hewan darat, sepanjang musim dingin.
Artikel Terkait:
Minggu, 9 Maret 2008 | 19:10 WIB

JAKARTA, MINGGU – Tidur panjang yang dilakukan hewan-hewan darat darat pada musim dingin ternyata juga dilakukan hewan air. Para ilmuwan untuk pertama kalinya memastikan bahwa ikan kod di Antartika (Notothenia coriiceps) melakukan hal tersebut.

Saat musim dingin tiba dan di mana-mana gelap, ikan kod akan turun ke dasar laut yang sangat dingin. Ikan-ikan tersebut akan mengurangi makanannya sedikit demi sedikit, detak jantungnya mulai melemah, dan akhirnya tidur panjang selama beberapa bulan. Jika pada hewan-hewan darat dikenal dengan hibernasi, perilaku serupa pada ikan disebut torpid. Torpid menjadi siklus biologi ikan kod yang dilakukan berulang setiap tahun. Temuan ini dilaporkan tim peneliti Inggris dan Autsralia dalam jurnal PLoS edisi online.

“Ikan tersebut menjadi 20 kali lebih pasif pada musim dingin daripada musim panas,” ujar Keiron Fraser, salah satu peneliti dari British Antarctic Survey. Para peneliti memantau aktivitas ikan kod dengan memasang alat ukur detak jantung di badan ikan-ikan liar dan melacak pergerakannya selama setahun menggunakan penanda akustik.

Sampai sekarang, mereka belum mengetahui faktor yang memicu perubahan metabolisme tubuh ikan tersebut. Perubahan suhu tidak dapat menjelaskan karena suhu rata-rata di Antartika hanya bervariasi dari 1 derajat Celcius pada musim panas hingga -1,8 derajat Celcius pada musim dingin. Pemanasan hingga dua derajat Celcius di laboratorium juga tidak meningkatkan detak jantungnya. Berkurangnya mangsa mungkin juga bukan faktor pemicunya. Sebab, di sekitarnya relatif masih banyak sumber makanan sehingga tidur panjang bukan dimaksudkan untuk itu.

“Mungkin mereka predator visual, dan pada musim dingin yang gelap mereka tentu tak dapat melihat,” ujar Fraser. Di Semenanjung Antartika tempat ikan kod hidup, sinar Matahari bersinar hampir 24 jam pada musim panas, namun hanya 3 jam pada musim dingin. Penelitian berikutnya akan memeplajari apakah ikan cod juga mengubah struktur kimi tubuhnya untuk hidup lama tanpa makanan. Hal tersebut mungkin juga akan mengungkap rahasia tidur panjang untuk mempertahankan hidupnya selama musim dingin.(NG/WAH)

Lobster Air Tawar Kenali Wajah Rival Maret 10, 2008

Posted by spanautama in ANIMAL ACTION, KABAR UTAMA.
add a comment
Lobster Air Tawar Kenali Wajah Rival
Lobster air tawar Australian (Cherax destructor) tidak hanya suka berkelahi, tetapi juga mengenali wajah-wajah lawannya.
Artikel Terkait:
Senin, 10 Maret 2008 | 13:08 WIB

JAKARTA, SENIN – Lobster air tawar ternyata pilih-pilih untuk berkelahi dan mungkin mengenal muka rivalnya. Hal tersebut diungkapkan para peneliti Australia yang mempelajari perilaku lobster Australia dari spesies Cherax destructor.

Selama ini, lobster air tawar dikenal sebagai hewan yang suka berkelahi setiap kali bertemu satu sama lain sehingga peternak harus jeli dan hati-hati mengatur kolam pemeliharaannya. Setelah mengamati beberapa kali konflik tersebut, para peneliti memisahkan lobster-lobster yang kalah.

Masing-masing kemudian dihadapkan kepada dua kelompok lobster, lobster-lobster yang menang dan lobster-lobster baru. Lobster yang menang dibedakan dengan lobster baru dengan pewarna kuning di wajahnya.

Hasilnya, lobster-lobster yang kalah lebih menyukai lawan berkelahi yang sudah dikenalnya daripada lawan baru. Hal tersebut menunjukkan bahwa lobster air tawar dapat mengenali wajah lawannya.

Bahkan, lobster juga dapat memilih lawan yang sudah dikenalnya meski dihadapkan pada dua lobster lainnya yang kembar identik. Bagi manusia, mengenali perbedaan kembar identik saja termasuk sulit kalau hanya dari melihat wajahnya saja.

“Ini menunjukkan bahwa mereka saling mengamati satu sama lain lebih dari yang kita pikirkan,” kata Blair Patullo, pakar hewan dari Universitas Melbourne, Australia, seperti dikutip Livescience, Kamis (6/3). Hasil penelitian dijelaskna lebih rinci dalam jurnal online PLoS ONE edisi 28 Februari. Temuan ini dapat membantu para peneliti mengembangkan sistem pengenal wajah, misalnya pada robot.(LIVESCIENCE/WAH)

Teleskop Raksasa Rekam Objek Pertama Maret 10, 2008

Posted by spanautama in KABAR UTAMA, TEKNOLOGI.
add a comment
Teleskop Raksasa Rekam Objek Pertama
Galaksi NGC 2770
Minggu, 9 Maret 2008 | 20:41 WIB

JAKARTA, MINGGU – Teleskop optik raksasa yang dibangun di Arizona, AS sukses merekam objek pertama menggunakan dua cermin untuk pertama kalinya. Foto tersebut memperlihatkan galaksi spiral NGC 2770 yang berada pada jarak 102 juta tahun cahaya dari Galaksi Bima Sakti dalam resolusi tinggi.

“Melihat teleskop beroperasi dengan cermin ganda rasanya sangat menggembirakan,” ujar Richard Green, Direktur Large Binocular Telescope (LBT), seperti dilansir BBC, Kamis (6/3). Sebab, LBT telah dibangun sejak 20 tahun lalu untuk melacak jejak alam semesta sejak kelahirannya.

Telskop senilai 120 juta dollar AS itu menggunakan dua cermin ganda sekaligus, masing-masing berdiameter 8,4 meter, untuk memaksimalkan paparan cahaya yang dikumpulkannya. Hal tersebut dapat merekam objek yang berjarak sangat jauh. Resolusi gambar yang dapat dihasilkannya mencapai 10 kali lipat kemampuan teleskop Hubble yang hanya membawa cermin berdiameter 2,4 meter.

“Foto-foto yang akan dihasilkan teleskop ini tidak akan pernah dilihat sebelumnya,” ujar Profesor Peter Strittmatter dari Universitas Arizona, AS. Sebab, teleskop tersebut sanggup merekam sebuah objek dengan variasi panjang gelombang yang lebih lengkap. Kombinasi citra ultraviolet dan cahaya hijau akan menghasilkan foto daerah tak beraturan saat bintang-bintang panas yang baru terbentuk. Sementara kombinasi citra dari gelombang cahaya merah akan menunjukkan bintang-bintang yang lebih tua dan lebih dingin.

LBT diperasikan dari Gunung Graham di wilayah tenggara Arizona. Teleskop tersebut sudah aktif dengan satu cermin sejak 12 Oktober 2005.(BBC)

Ditemukan Lagi Fosil Gading Gajah Maret 10, 2008

Posted by spanautama in KABAR UTAMA.
add a comment
Ditemukan Lagi Fosil Gading Gajah Purba di Patiayam
Sejumlah fosil untu buto dan tanduk kerbau yang diperkirakan berusia 500.000 tahun ditemukan di Bukit Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, 3 Oktober 2005.
Senin, 10 Maret 2008 | 12:19 WIB

KUDUS, MINGGU – Selama November 2007 hingga awal Maret 2008, tim Balai Arkeologi Jogjakarta atau BAJ dan sebagian warga menemukan dan menggali beberapa jenis fosil di situs Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Penemuan terbaru berupa dua fosil gading gajah purba (Stegodon trigono chepalus sp) oleh Mustakim (25) dan Karmijan (45), warga Desa Terban.

Fosil pertama berukuran panjang 2,70 meter dengan lingkar pangkal 61 sentimeter dan lingkar ujung 28 sentimeter. Fosil kedua berukuran panjang 2,25 meter, lingkar pangkal 51 sentimeter, dan lingkar ujung 15 sentimeter.

Menurut juru pelihara situs Patiayam, Mustofa, Minggu (9/3), sejak adanya laporan penemuan dua fosil gading gajah, dibutuhkan waktu sekitar empat hari empat malam untuk menjaga lokasi penemuan fosil itu agar tidak dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab.

Selain dua fosil gading gajah, menurut Mustofa, di lokasi yang sama juga ditemukan fosil geraham, tulang paha, tulang bahu, dan beberapa bagian dari fosil binatang purba. Namun, penemuan-penemuan itu masih dibiarkan di lokasi karena takut rusak ketika hendak digali dan diangkat dari dalam tanah.

Kepala BAJ Siswanto menyatakan akan melanjutkan penelitian dan penggalian di sekitar situs. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kudus Brata Subagya, yang didampingi Kepala Seksi Museum Sejarah Kepurbakalaan Sancaka Dwi Supani, mengatakan akan meningkatkan pengamanan di sekitar situs.

Langkah ini dilakukan agar lokasi situs tidak dirusak oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Rusaknya situs bisa menyebabkan hilangnya sejumlah barang berharga serta terganggunya rangkaian penelitian dari fosil-fosil berharga yang ditemukan di sekitar situs tersebut. (KOMPAS/SUP)