“Kumis” Burung Juga Pengindera Maret 18, 2008
Posted by spanautama in ANIMAL ACTION.add a comment
JAKARTA, SENIN – Bulu yang memanjang di bagian muka satu jenis burung ternyata memiliki fungsi mirip kumis seekor kucing. Jadi, bulu tersebut bukan sekedar hiasan seperti dianggap selama ini.
Dikenal dengan nama auklet berkumis (Aethia pygmaea), burung ini menggunakan bulu tersebut sebagai sensor pengenal lingkungan sekitarnya untuk navigasi di kegelapan. Temuan ini dilaporkan dalam jurnal Behavioral Ecology edisi terbaru.
Hidupnya memang banyak dihabiskan di dalam lorong tanah dan hanya keluar di malam hari. Sampath Seneviratne dan Ian Jones dari Universitas Memorial St John Newfoundland, Kanada penasaran apakah bulu-bulu ini berfungsi sebagai sensor peraba. Untuk mengetes, mereka menangkap 99 ekor dan ditempatkan di dalam kubah yang menyerubai habitatnya lalu mengematinya melalui kamera video inframerah. Ternyata, burung-burung tersebut jarang sekali menabrak penghalang di dalamnya.
Bulu putih yang memanjang merupakan tipe yang disebut rictal bristle. Tipe ini pernah diduga memiliki fungsi sensorik namun tak pernah diuji sebelumnya.(NATURE/WAH)
Uap Air dan Materi Organik Melimpah di Luar Angkasa Maret 18, 2008
Posted by spanautama in SCIENCE NEWS.add a comment

JAKARTA, SENIN – Menggunakan teleskop ruang angkasa Spitzer, para astronom menemukan materi organik dan air di sekitar sebuah bintang muda. Eksistensi air juga terekam di zona protoplanet bintang-bintang lainnya.
Material organik dan air yang merupakan bahan utama penyokong kehidupan itu terdeteksi keberadaannya pada cakram debu dan gas yang mengelilingi bintang. Cakram seperti itulah yang selama ini diyakini sebagai zona pembentukan planet-planet dan bulan.
Dengan mempelajari interaksi material organik dan air di cakram tersebut, proses kelahiran tata surya dapat dipelajari lebih baik. John Carr dari Laboratorium Riset Angkatan Laut AS dan Joan Najita dari National Optical Astronomy Observatory, Tucson, Arizona, AS menggunakan teknik pengukuran spektrografi inframerah terbaru untuk menganalisis dan mengukur komposisi kimia zona pembentukan planet di sekitar bintang AA Tauri berumur kurang dari satu juta tahun.
“Sebagian besar material di dalam cakram adalah gas, namun sampai sekarang sulit dipelajari komposisi gasnya,” ujar Carr. Meski demikian, mereka berhasil mendeteksi jejak tiga jenis molekul organik, yakni hidrogen sianida, asetilen, dan karbon dioksida serta uap air. Temuan tersebut dilaporkan dalam jurnal Science edisi 14 Maret 2008.
Dengan teknik sama, Colette Salyk dari Institut Teknologi California (Caltech) dan timya juga mendeteksi air di banyak bintang muda lainnya. Komposisi uap air di dua bintang bahkan sudah dipetakan lebih detil dengan teleskop Keck II di Hawaii dan dilaporkan dalam Astrophysical Journal Letters edisi 20 Maret 2008.
“Ini jauh lebih banyak daripada satu dua cakram saja,” ujar Geoffrey Blake, profesor kosmokimia dan ilmu planet-planet dari Caltech. Meski kadar upa air tidak sebanyak laut di Bumi, temuan ini menunjukkan bahwa uap air melimpah di luar angkasa.(JPL/WAH)


Pengadilan tinggi di Kanada menolak permintaan seorang imigran Kanada agar menambahkan kata ‘Israel’ setelah kata ‘Quds’ pada kolom tempat lahir dalam paspornya. Pengadilan menegaskan komitmennya untuk bersikap netral dalam masalah kota suci.










