jump to navigation

Air Liur Dapat Gantikan Darah di Uji Diagnostik Maret 26, 2008

Posted by spanautama in KESEHATAN.
1 comment so far
Air Liur Dapat Gantikan Darah di Uji Diagnostik
Artikel Terkait:

CHICAGO, RABU – Para periset di Amerika Serikat telah mengindentifikasi 1.116 protein unik pada kelenjar saliva atau air liur manusia yang dapat mengarah ke uji diagnostik kedokteran yang lebih nyaman dengan air liur ketimbang menggunakan darah. Sebanyak 20 persen kandungan protein yang ditemukan pada saliva juga ditemukan pada darah, kata Fred Hagen, seorang ahli riset di Universitas Rochester Medical Center, New York.

“Kandungan tersebut berpotensi untuk dijadikan sebagai pijakan besar yang banyak berimplikasi klinis dalam hal diagnostik penyakit,” kata Hagen yang studinya tersebut dimuat di dalam Jurnal Proteome Research. Para ahli riset berharap uji berdasarkan air liur ini dapat digunakan untuk mendiagnosa kanker, penyakit jantung, diabetes, dan sejumlah penyakit lainnya.

“Untuk mampu mendiagnosa penyakit dengan menggunakan air liur, anda harus memahami secara menyeluruh proteome air liur,” kata Hagen. Bagaikan genom, yang mencatat seluruh gen pada sebuah organisme, proteome merupakan gambaran lengkap dari berbagai protein. Apabila gen menyediakan instruksi manual, protein melaksanakan instruksi dengan mengatur proses seluler.

Para periset dari 5 universitas – University of Rochester, The Scripps Research Institute, the University of Southern California, The University of California San Francisco and the University of California Los Angeles — berupaya menentukan kandungan protein lengkap yang terdapat pada kelenjar air liur pada umumnya.

Darah, Air Liur dan Air Mata

Para periset tersebut mengumpulkan air liur dari 23 pria dan wanita sehat dari berbagai ras. Periset menggunakan sampel air liur dengan menggunakan spectrometry massa yang menentukan identitas protein berdasarkan ukuran massa dan charge (berat kosong).

Periset membandingkan penemuan mereka tersebut dengan pemetaan protein dari darah dan air mata manusia yang ditemukan belakangan. Hasil analisa awal menunjukkan terdapat sejumlah protein yang dikenal berperan dalam Alzheimer, Huntington, Parkinson, kanker payudara, kanker pankreas, kanker colorectal (kanker yang berkembang pada colon atau usus besar dan rectum atau anus), serta diabetes.

Hegen menjelaskan pemetaan tersebut seharusnya mempercepat pengembangan media baru untuk melacak penyakit di seluruh tubuh. Menurut Hagen, telah terdapat uji anti body yang berpijak pada air liur untuk mendeteksi virus HIV serta infeksi hepatitis. Hagen menerangkan protein tersebut akan bertugas dalam menginformasikan target deteksi penyakit baru.

“Memonitor penyakit serta penggunaan obat dapat dilakukan secara lebih mudah dengan air liur ketimbang dengan darah atau urin,” kata Hagen. “Kami membayangkan petunjuk keberadaan penyakit seperti kanker dapat dideteksi hanya dengan melihat indikator air liur. Hal ini akan jauh lebih mudah dilakukan terutama di rumah,” jelasnya. Hagen berharap identifikasi penyakit dengan air liur ini nantinya dapat menggantikan fungsi tes diagnostik pada mammograms yang tidak nyaman dan menelan biaya besar. (yahoonews.com)

Bongkah Es Antartika Pecah Sepertiga Luas Jakarta Maret 26, 2008

Posted by spanautama in KABAR UTAMA.
add a comment
Bongkah Es Antartika Pecah Sepertiga Luas Jakarta

WASHINGTON, SELASA - Lapisan es Antartika di Kutub Selatan kembali mengalami kondisi kritis. Bagian barat benua beku tersebut pecah sehingga bongkah es seluas tujuh kali Kota Manhattan, AS atau sekitar sepertiga luas Jakarta, lepas ke lautan lepas.

Bagian yang pecah merupakan tepan beting es Wilkins yang telah terbentuk di Antartika bagian barat sejak ratusan tahun hingga 1500 tahun yang lalu. Citra satelit menunjukkan bongkahan tersebut mulai bergerak sejak 28 Februari 2008.

“Ini adalah akibat pemanasan global,” ujar David Vaughan, ilmuwan Survei Antartika Inggris (BAS). Pecahan es ini akan melelah di perairan yang lebih hangat, pecah menjadi beberapa bagian, dan habis sama sekali. Namun, peluangnya tetap bertahan juga ada karena saat ini sudah memasuki periode akhir musim panas di Antartika dan suhu mulai mendingin.

Meskipun peristiwa pecahnya bongkah es dari tepian Antartika sering terjadi, kejadian yang menyebabkan pecahan sebesar ini termasuk jarang. Bongkah es yang lebih besar baru terjadi dua kali yakni di tahun 2022 dan 1995. Namun, para ilmuwan khawatir kejadian seperti itu akan semakain sering terjadi akibat peningkatan suhu atmosfer.

“Pecahnya mirip kaca yang dipukul palu,” ujar Vaughan. Ia memprediksi beting es Wilkins akan habis dalam 15 tahun ke depan jika tren kenaikan suhu tidak dapat dicegah. Meskipun bagian yang telah hilang dari beting es tersebut baru 4 persen, hal tersebut tetap dapat memicu retakan lebih besar.

Para ilmuwan baru melihat kejadian tersebut sebagai akbat pemanasan global. Pada hal masih ada ancaman berikutnya karena pelelahan es Antartika akan menyumbang terhadap kenaikan muka air laut di seluruh dunia.(AP/WAH)

Kebun Raya Purwodadi Masih Minim Kunjungan Maret 26, 2008

Posted by spanautama in KABAR UTAMA.
add a comment
Kebun Raya Purwodadi Masih Minim Kunjungan

MALANG, KOMPAS – Kepala Kebun Raya Purwodadi Djauhari Asikin mengakui lembaga yang dipimpinnya selama ini masih minim kunjungan masyarakat, kecuali komunitas pelajar sekolah dasar hinga perguruan tinggi yang selama ini menjadi pengunjung tetapnya sebagai lokasi riset dan pendidikan Botani (ilmu tumbuhan). Kunjungan wisatawan domestik hanya 150.000 orang per tahun, padahal informasi yang ia terima kunjungan ke Jawa Timur Park, daerah tujuan wisata favorit di Batu tahun 2007, bisa mencapai satu juta orang, bahkan setelah bencana lumpur Lapindo.

Djauhari mengakui, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai induk organisasi Kebun Raya Purwodadi sebenarnya memberi peluang untuk memungkinkan kerjasama komersial dengan pihak swasta, katanya di Malang, Rabu (26/3). Hanya saja tetap ada batasan-batasan agar setiap kegiatan tidak boleh jauh-jauh dari pokok tugas kami di lingkungan pelestarian lingkungan, pendidikan, dan riset.

Ia mengungkapkan, diantara proposal kerjasama yang pernah ia terima adalah membuat kolam renang di Purwodadi, yang tidak diizinkan oleh LIPI karena akan merusak lahan. Pertunjukan yang berisiko, misalnya dangdut yang mengumpulkan puluhan ribu penonton, pada mulanya diizinkan, namun setelah terjadi insiden tahun 2006 kemudian tidak lagi diizinkan.

Waktu itu ada ulang tahun sebuah perusahaan provider telekomunikasi. Menghadirkan kelompok musik Radja, yang meski dilakukan tertutup, namun akhirnya penonton membludak hingga kami harus membuka pintu gerbang. Muncul kemacetan di jalur Malang Surabaya hingga 2 jam. Penonton pertunjukan memang bisa dibatasi tidak merusak area tanaman. Namun akhirnya tetap saja ada tanaman yang terinjak atau patah. Sehingga kerjasama pertunjukan harus kami pertimbangkan baik-baik, karena risikonya tidak sepele.

Menurut Djauhari, pada dasarnya pihaknya dan LIPI tidak keberatan untuk segala bentuk kerjasama untuk menjadi Kebun Raya Purwodadi lebih populer bagi publik non pelajar. Saat ini, diakuinya, dengan jumlah kunjungan sekitar 150.000 orang per tahun, dengan tiket masuk relatif kecil bahkan paling murah diantara daerah tujuan wisata se-Malang Raya, yakni Rp 4.000 per orang, pendapatan tahunan yang diperoleh dari pengunjung masih amat kecil.

Perilaku Hiu Bisa Prediksi Badai Maret 26, 2008

Posted by spanautama in ANIMAL ACTION.
add a comment
Perilaku Hiu Bisa Prediksi Badai

JAKARTA, RABU – Untuk memprediksi terjadinya badai,
perilaku hiu mungkin bisa dijadikan ukuran. Hewan
tersebut memiliki kemampuan mendeteksi perubahan
tekanan yang sangat baik sehingga diyakini mampu
mengetahui prekursor atau pemicu terjadinya badai.

Begitulah kesimpulan tesis Lauren Smith (24), yang
segera menyelesaikan program doktor di Universitas
Aberdeen. Jika teorinya benar, tanda-tanda badai besar
mungkin dapat diprediksi lebih dini sehingga jatuhnya
korban jiwa dapat ditekan.

“Saya sangat senang dapat mengeksplorasi bidang ini
untuk PhD saya, apalagi ini untuk pertama kalinya
bidang ini dipelajari dengan lengkap,” ujarnya.
Meurutnya masih banyak hal yang harus dipelajari lebih
lanjut, namun temuan ini setidkanya menjadi pembuka
bagi penelitian-penelitian berikutnya.

Riset yang dilakukan Smith didasari penelitian
sebelumnya di Florida yang menunjukkan bahwa anak-anak
hiu berpunggung garis menyelam ke dalam perairan lebih
dalam di sekitar lokasi terjadinya badai Gabrielle
tahun 2001. Untuk mempelajari lebih lanjut, Smith
mengamati perilaku hiu di alam dipelajari melalui
studi lapangan dilakukan di Stasiun Lapangan Biologi
Bimini. Hiu dipasangi alat ukur tekanan, suhu,
akustik, dan pelacak GPS pada beberapa hiu lemon.

Penelitian juga dilakukan pada hiu lemon di dalam
akuarium khusus Pusat Hyberbarik Nasional di
Universitas Aberdeen. Tekanan di ruang akuarium dapat
bebas diatur sehingga menyerupai perbahan tekanan yang
terjadi di laut dan sekitarnya. Di ruangan tersebut,
ia dapat mengamati perubahan perilaku hiu akibat
pengaruh gelombang permukaan, perubahan suhu, dan
tekanan.(BBC/WAH)

Pertemukan Persepsi Ekologi Rakyat dan Pejabat Maret 26, 2008

Posted by spanautama in KABAR UTAMA.
add a comment
Pertemukan Persepsi Ekologi Rakyat dan Pejabat
Artikel Terkait:

MALANG, KOMPAS – Perlu ada pemahaman dalam melihat ekologi dengan acara mempertemukan tiga persepsi berbeda pada tiga kelompok yang berseberangan kepentingan dan kebutuhan selama ini, yakni rakyat, pejabat pembuat keputusan, dan ilmuwan. Ini karena selama ini problem yang dihadapi masyarakat dalam memahami ekologi adalah kesenjangan persepsi dan kepentingan, antara tiga kelompok, yakni rakyat, pembuat kebijakan dan ilmuwan. Melalui cara itu, tidak harus setiap lereng dihutankan, dan malah ada lereng yang d apat dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat setempat.

Demikian penegasan guru besar biologi tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Prof Dr Kurniatun Hairiah ketika memimpin kegiatan Pelatihan Nasional Kaji Cepat Hidrologi dan Cadangan Karbon di lokasi field trip acara ini di lokasi air terjun Coban Rondo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Rabu (26/3). Sebanyak 29 peserta dari sejumlah lembaga pengamatan ekologi dan rehabilitasi lingkungan ikut serta, diantaranya dari Riau, Pekanbaru, Denpasar, Medan, Bogor, Jember, Samarinda, Lampung.

Mereka mewakili lembaga pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat serta perguruan tinggi, untuk tujuan memulai upaya membentuk pemahaman baru mengenai persepsi ekologi semua pihak tersebut. Petani dan warga sekitar memahami, bahwa ekologi harus memihak ra kyat. Tanah harus memberi perlindungan ekonomi bagi masyarakat sekitar, dan ini memotivasi warga untuk mengakses hutan, yang dipahami pejabat sebagai kegiatan penjarahan dan perusakan lingkungan.

Sebaliknya dengan pejabat setempat, yang hanya memhami bahwa tanah berstatus hutan maka harus dihutankan, sesuai dengan status hukumnya, katanya. Pelatihan yang dikelolanya berdasarkan konsep tentang trees in multi-use landscapes, pepohonan dalam bentang lahan yang serba guna, menawarkan serangkaian kajian dan metode untuk melakukan kaji cepat terhadap fungsi suatu bentang lahan dalam kerangka ekologi, dan hubungannya dengan masyarakat sekitar, seperti konflik pemilikan lahan, pasar, hingga dampaknya terha dap hidrologi, agrobiodiversitas, dan cadangan karbon.

Melalui berbagai kaji cepat terhadap fakto dependen dan independen, kemudian bisa ditentukan model manajemen lahan. Sehingga tak perlu setiap kali terjadi konflik antara Perhutani dan masyarakat mengenai pemanfaatan lahan hutan. Mungkin di suatu bentang lahan tertentu bisa dimungkinkan untuk tanaman pangan meski tetap mempertahankan dukungan ekologi, dan mungkin di kawasan lain harus dipertahankan sebagai hutan karena risiko ekologinya, ungkap Kurniatun.

Para peserta pelatihan direncanakan untuk mengetrapkan paradigma baru ekologi ini di masing-masing daerah asalnya, agar segera bisa memutus mata rantai konflik ekologi, sekaligus segera melakukan penyelematan lingkungan, katanya. Pesertanya datang dari be rbagai latar belakang, termasuk pemerintah, ilmuwan, aktivis LSM dan penyelemat lingkungan.

Kadal Tertua Pemakan Tumbuhan Maret 26, 2008

Posted by spanautama in ANIMAL ACTION.
add a comment
Kadal Tertua Pemakan Tumbuhan
Ilustrasi Kuwajimalla kagaensis.
Artikel Terkait:

JAKARTA, SELASA – Kadal tertua yang memangsa tumbuh-tumbuhan hidup sekitar 130 juta tahun lalu. Keberadaannya terlacak dari fosil yang ditemukan di Jepang.

Fosilnya sudah ditemuukan sejak tahun 2001, namun baru diidentifikasi. Para ilmuwan mengklasifikasikan kadal tersebut sebagai spesies baru dengan nama Kuwajimalla kagaensis. Hewan tersebut lebih tua daripada Dicothodon, kadal herbivora tertua sebelumnya, yang hidup di Amerika Utara sekitar 100 juta tahun lalu.

“Ini sangat langka dan sangat tua,” kata Susan Evan, paleontoog dari Universitas College London yang mengidentifikasi spesies tersebut. Berdasarkan ukuran tulang-belulangnya, para ilmuwan memperkirakan ukuran tubuhnya antara 25 hingga 30 centimeter. Struktur giginya menjadi petunjuk sifat herbivora. Giginya mirip dengan gigi iguana yang juga masuk ke dalam kelompok kadal pemakan tumbuh-tumbuhan.

Kadal pemakan tumbuh-tumbuhan tergolong langka karena kebanyakan makan serangga. Dari sekian banyak kadal yang masih bertahan hidup sampai sekarang, hanya ada 3 persen yang masuk kelompok ini. Rata-rata, kadal tersebut makan tumbuh-tumbuhan yang berbunga (angiosperma).

Tumbuhan Bunga

Hewan tersebut mungkin makan tumbuhan berbunga yang muncul di awal periode perkembangannya. Sebab, kadal berukuran kecil seperti ini mungkin tak sanggup memangsa daun tumbuh-tumbuhan tak berbunga (gimnosperma) yang umumnya tebal dan keras. Namun, tetap ada kemungkinan ia makan daun gimnosperma muda yang lebih kecil dan lunak.

“Dengan menemukan fosil ini dari Jepang, hal tersebut mungkin menunjukkan bahwa tubuh-tumbuhan berbunga sudah ada meskipun kami belum punya bungki nyata,” ujar Makoto manabe, salah satu peneliti dari Museum Sains Nasional, Tokyo, Jepang. Fosil tertua tumbuhan berbunga sejauh ini berusia 125 juta tahun.(NG/WAH)

Kebencian Rabi Maret 26, 2008

Posted by spanautama in KABAR UTAMA.
add a comment
Kebencian Rabi

rabi yang benci Islam
MDNews-Gaza-Sudah watak orang yahudi zionis yang selalu membenci kaum muslimin. Seperti yang sudah Alloh firmankan di surat Al Baqoroh :120.

Seorang Rabi berpengaruh di Israel, Ovadia Yosef, di surat kabar berpengaruh di Israel, Ha’aretz mengatakan bahwa Israel(tentara) harus bedoa lebih giat agar berhasil membunuh rakyat Palestina.

Tidak hanya berdoa pada hari Sabbat/Sabtu, mereka juga harus berdoa di hari senin dan kamis, demikian himbauan buruknya kepada bangsa Israel.

Lebih lanjut dia menambahkan, hanya dengan membunuh dan memusnahka rakyat Palestina sajalah, bangsa Israel dapat duduk dengan tenang mempelajari Taurat.

Dia membandingkan tindakan bengis Israel ini dengan Hitler. Menurutnya, membunuh bayi,rakyat tidak berdosa, ibu-ibu dan anak-anak adalah bukan tindakan yang pantas bagi tentara, tetapi lebih tidak pantas lagi tindakannya Hitler membunuh orang Yahudi di Jerman, sebuah perbandingan yang aneh. rmd/aljzr