Gurita-gurita Romantis dari Indonesia April 7, 2008
Posted by spanautama in ANIMAL ACTION.add a comment
JAKARTA, MINGGU – Para peneliti dari Universitas Berkeley, California, AS terkejut menemukan kawanan gurita yang sangat atraktif. Karakternya sangat berbeda dengan gurita-gurita di akuarium yang umumnya sangat pemalu. Sifat yang tidak biasa ditunjukkan gurita-gurita liar dari spesies Abdopus aculeatus. Gurita yang ukuran tubuhnya sebesar buah jeruk dan tentakel sepanjang 20-25 centimeter ini ditemukan di sekitar pantai-pantai di wilayah Indonesia.
Gurita-gurita liar tersebut jelas sangat bersemangat berkompetisi untuk berebut pasangan terbaik, sangat melindungi pasangannya, dan hanya kawin sekali seumur hidup. Para pejantannya sangat pemilih untuk mendapat pasangan dan tak segan menyerang rivalnya sampai untuk menggaet calon pilihannya. Namun, di balik kejantanannya, gurita jantan juga kadang-kadang feminin.
Misalnya, berenang dengan genit di dekat dasar laut dan menutupi garis coklat di tubuhnya yang mejadi tanda pejantan untuk menaklukkan pilihan pasangan secara tiba-tiba. Para pejantan ini berebut gurita betina yang tubuhnya paling besar. Para peneliti memperkirakan, pilihan tersebut mungkin terkait dengan strategi bertahan hidup.
“Jika Anda harus menghabiskan waktu untuk berebut betina, Anda harus mencari yang terbesar sebab ia paling banyak memproduksi sel telur,” ujar Roy Caldwell, salah satu biolog dari Universitas California Berkeley yang melaporkan temuannya dalam jurnal Marine Biology edisi terbaru. Apalagi, kawanan gurita ini hana memiliki umur sangat singkat. Hasil pengamatan menunjukkan, sel-sel telur yang dibuahi matang dalam sebulan. Sesaat setelah anak-anaknya lahir, gurita betina maupun pejantannya mati.
“Ini bukan seks yang menyebabkan kematian,” ujar ketua tim peneliti Christine Huffard. Sebab, gurita tersebut memang memiliki usia sangat pendek dan hanya memiliki kesempatan kawin sekali seumur hidup.(AP/WAH)
Ikan Aneh dari Ambon Punya Mata Seperti Manusia April 7, 2008
Posted by spanautama in ANIMAL ACTION.add a comment

JAKARTA, JUMAT – Seekor ikan yang ditemukan di perairan Ambon sangat aneh karena memiliki mata seperti manusia. Tidak seperti ikan lainnya, kedua matanya menghadap ke depan di permukan mukanya yang rata.
Sirip punggung, sirip ekor, dan sirip bawah dilapisi kulit yang lembut dan tipis yang bergaris-garis coklat muda dan putih. Hewan seukuran genggaman tangan manusia ini sangat luwes menyelinap di antara celah karang sehingga jarang ditemui.
Secara umum ikan tersebut dikelompokkan sebagai ikan penjerat (anglerfish) atau ikan katak (frogfish) yang suka berdiam di satu tempat dan memancing mangsanya datang. Namun, sosoknya yang aneh tak dijumpai dalam literatur ikan manapun. Ikan tersebut ditemukan pertama kali oleh pemandu selam Toby Fadilsyair lima belas tahun lalu. Namun, sampai sekarang proses identifikasi terhadap ikan tersebut belum pernah dilakukan karena sulitnya merekamnya dari dekat.
Beruntung, pada Januari 2008 lalu, penyelam Mark Snyder dari Maluku Divers berhasil memotret seekor di antaranya dari dekat dan dari berbagai sudut. Foto-foto tersebut kemudian dikirim kepada Profesor Theodore Pietsch, pakar ikan dari Sekolah Kelautan dan Ilmu Perikanan Universitas Washington untuk diidentifikasi.
“Begitu saya melihat foto tersebut, saya tahu bahwa ia jenis anglerfish karena sirip-sirip di sisi badannya yang mirip kaki,” ujar Pietsch. Sirip yang khas ini berfungsi untuk membantu ikan tersebut merayap di dasar laut daripada berenang untuk berpindah ke tempat lain. Namun, tidak seperti ikan penjebak umumnya, ia tak memiliki semacam pancing di atas kepalanya untuk menarik perhatian mangsa.
Mukanya yang rata dan dua mata yang menghadap ke depan membuatnya kaget karena tidak pernah ditemuinya selama 40 tahun mempelajari karakteristik ikan. Kebanyakan ikan memiliki mata yang menghadap ke kanan dan kiri badannya. Sepasang mata yang menghadap ke depan membuat ikan tersebut memiliki kemampuan melihat secara binokuler layaknya manusia. Sepasang mata yang melihat objek sama seperti ini sangat berguna karena dapat menentukan jarak objek di depannya dengan lebih tepat.
Meski bukti-bukti cukup kuat, perlu identifikasi langsung baik secara moefologi maupun tes DNA untuk memastikan apakah ikan ini dapat dimasukkan sebagai kelompok tersendiri. Sejauh ini para ilmuwan telah mengelompokkan ikan-ikan penjerat ke dalam 18 familia dan Pietsch yakin ikan ini masuk ke dalam familia ke-19. Untuk mengungkapnya, Pietsch telah mendapat sokongan dari lembaga riset AS National Sience Foundation.(AP/LIVESCIENCE/WAH)
Fosil Kotoran Manusia Tunjukkan Penduduk Tertua Amerika April 7, 2008
Posted by spanautama in SCIENCE NEWS.1 comment so far
WASHINGTON, KAMIS – Bukti baru menunjukkan Amerika Utara sudah dihuni sejak 14.000 tahun lalu alias sekitar 1000 tahun lebih awal dari catatan sejarah sebelumnya. Tahukah Anda kalau jejak penduduk tertua di sana bukan dari fosil tulang-belulang manusia, melainkan dari fosil kotorannya.
“Ini merupakan pertama kalinya kami dapat melacak jejak manusia secara pasti dan mereka 1000 tahn sebelum Clovis,” ujar Dennis L Jenkins, arkeolog dari University Oregon. Clovis adalah nama kebudayaan prasejarah tertua di Amerika Utara yang berkembang sejak 13.500 tahun lalu dan banyak diketahui dari barang-barang peninggalannya berupa mata-mata tombak dari batu yang khas. Sementara fosil kotoran ini berusia sekitar 14.340 tahun.
Kotoran berusia puluhan ribu tahun yang sudah mengeras menjadi batu itu ditemukan dari sebuah gua di Oregon. Kode DNA yang diukur dari kotoran tersebut mirip dengan sifat genetika penduduk yang saat ini tinggal di Siberia dan Asia Timur.
Wilayah Amerika Utara diyakini sebagai gerbang penyebaran manusia ke Benua Amerika. Para pakar sejarah di seluruh dunia saat ini memperkirakan manusia mulai memasuki Benua Amerika melalui Amerika Utara dari Asia melalui jalur darat yang menghubungkan Alaska dan Siberia.
Di samping fosil kotoran, arkeolog juga menemukan sejumlah artifak di dalam gua. Jenkins memperkirakan orang-orang prasejarah itu hanya tinggal di gua tersebut beberapa hari sebelum bergerak ke lokasi lainnya.
Dari fosil kotoran atau disebut coprolite tersebut para arkeolog bahkan dapat mempelajari diet makanan penduduk tertua Amerika. Dalam kotoran tersebut ditemukan jejak tulang bajing, rambut bison, ikan, protein dari burung, anjing, dan rumput-rumputan.(AP/WAH)
Kelompok Bintang Baru Menyerupai Kacang April 7, 2008
Posted by spanautama in SCIENCE NEWS.add a comment

JAKARTA, KAMIS - Dua sistem bintang yang baru ditemukan memiliki ciri unik yang mirip, yakni sama-sama menyerupai kacang. Masing-masing sistem terdiri dari dua buah bintang yang saling berdekatan dan berbagi material di sekitarnya sehingga membentuk semacam jembatan di antaranya.
Keduanya teramati dari teleskop binokular raksasa atau LBT (Large Binocular Telescope) yang dipasang di Pegunungan Graham, Arizona, AS. Sistem bintang pertama ditemukan di galaksi mini bernama Holmberg IX yang berada 13 juta tahun cahaya dari Bumi. Sementara sistem bintang kedua di Awan Magelan Mini yang mengelilingi galaksi Bima Sakti pada jarak 230.000 tahun cahaya dari Bumi.
¨Kami tidak berpikir menemukan salah satu diantaranya, apalagi dua,¨ ujar salah satu peneliti, Kris Stanek, asosiate profesor astronomi dari Universitas Ohio State. Saking uniknya dan berbeda dengan bintang-bintang lainnya, para astronom mengelompokkannya ke dalam kelas bintang yang baru.
Bintang-bintang tersebut memancakan cahaya kuning sangat terang. Masing-masing memeliki massa sekitar 15 kali massa Matahari. Para ilmuwan sebenarnya telah mengetahui objek tersebut sejak tahun 1980-an, namun salah diidentifikasi karena setiap bintang bergerak tegak lurus terhadap arah pandang dari Bumi sehingga kadang terlihat satu bintang, kadang dua bintang.
Penemuan bintang kuning ini juga memberi petunjuk baru mengenai misteri supernova. Dari sekian banyak supernova yang telah dipelajari, dua di antaranya dikelompokkan sebagai ledakan bintang kuning, namun secara teori tak dapat dijelaskan. Supernova biasanya terjadi saat bintang telah menghabiskan energinya sehingga menjadi bintang raksasa merah atau biru sebelum akhirnya meledak.(XINHUA/WAH)

















