Akhirnya, Manusia Bisa Terbang dengan Sayap Mei 22, 2008
Posted by spanautama in TENTANG.add a comment
JAKARTA, MINGGU – Mimpi manusia untuk terbang bebas seperti burung dengan mengepakkan dua sayapnya mungkin belum terwujud. Namun, terbang dengan sayap menempel di punggung, setidaknya, sudah dapat dilakukan.
Untuk pertama kalinya, Yves Rossy, seorang mantan pilot pesawat terbang dari Swiss, mendemonstrasikan terbang dengan sayap segitiga bermesin jet buatannya. Pria berusia 48 tahun yang mendapat sebuta “Fusion Man” itu melompat dari pesawat dengan sayap segitiga selebar 2,5 meter di punggungnya dan terbang melayang di atas Pegunungan Alpen.
Begitu jatuh bebas dari pesawat yang membawanya, ia langsung mengaktifkan empat mesin jet yang ada di bagian belakang sayapnya. Dalam sejak sejak diaktifkan, dorongan jet membuatnya dapat terbang hingga kecepatan 300 kilometer perjam.
Rossy sempat melakukan manuver, meliuk-liuk, terbang menukik, hingga melakukan putaran 360 derajat pada ketinggian 2300 meter. Setelah lima menit menjajal sayap buatanya di udara, ia mematikan mesinnya dan turun dengan parasit.
“Saya belum mencoba semuanya,” ujarnya usai turun di sebuah landasan pesawat dekat Danau Jenewa, Rabu (14/5) lalu. Sayapnya baru akan dieksplorasi semua kemampuannya oleh seorang stunt man dan disiarkan langsung dalam sebuah acara televisi.
Namun, Rossy juga telah merencanakan untuk mencoba kembali alat buatannya untuk melintasi Selat Inggris tahun ini. Bahkan ia berharap suatu saat dapat terbang di atas Grand Canyon dengan sayap lebih lebar dan mesin jet lebih besar.
Untuk membuat alat tersebut, Rossy menghabiskan dana 285.000 dollar AS yang disponsori perusahaan jam tangan Swiss Hublot. Sementara untuk baju yang dipakainya tidak perlu didesain khsusu karena seperti baju tahan api yang biasa dipakai petugas pemadam kebakaran.
Sampai saat ini, Rossy belum berencana menjual alat buatannya ke pasaran, namun ia yakin alat serupa akan banyak dikembangkan untuk memberikan pengalaman terbang lebih menyenangkan terutama bari pecinta olahraga parasit.
WAH
Sumber : AP
Udang Mantis Bisa Melihat “Hantu” Mei 22, 2008
Posted by spanautama in ANIMAL ACTION.add a comment
JAKARTA, SELASA – Dengan mata supernya, udang mantis yang hidup di sekitar terumbu karang mungkin dapat melihat hantu. Betapa tidak, hewan tersebut dapat melihat warna pantulan cahaya ultraviolet hingga inframerah.
Jika manusia hanya dapat melihat dengan kombinasi 3 warna primer, mata udang mantis dapat membedakan dengan kombinasi 11-12 warna primer. Selain itu, udang mantis juga memiliki kemampuan melihat langsung warna cahaya berbeda-beda dari polarisasi cahaya.
Seperti halnya beberapa hewan lainnya, seperti burung parkit dan semut, kemampuan melihat cahaya yang terpolarisasi dimanfaatkan untuk navigasi dan melihat mangsa. Mereka dapat melihat perubahan pola warna pantulan cahaya jika jatuh dari sudut berbeda-beda di permukaan benda.
“Udang mantis sungguh hewan yang aneh dan sekarang kami menemukan bahwa spesies ini dapat melihat dunia yang gaib bagi sebagain besar dari kita,” ujar Andrew White, salah satu peneliti dari Universitas Queensland, Australia.
Bahkan, udang mantis dapat melihat polarisasi cahaya lebih kompleks yang disebut circular polarization. Polarisasi yang terjadi bukan hanya karena berkas cahaya yang jatuh lurus ini sangat jarang terjadi. Hanya beberapa benda yang menghasilkan polarisasi semacam ini, mislanya kunang-kunang, klorofil daun, kumbang jimat, dan tubuh udang.
Fosil Burung Zaman Dinosaurus Ditemukan Utuh di China Mei 22, 2008
Posted by spanautama in ANIMAL ACTION.add a comment
JAKARTA, RABU – Meski usianya tak setua Archaeopteryx, yang diyakini sebagai spesies burung tertua di dunia saat ini, fosil baru yang ditemukan di China ditemukan dalam kondisi utuh. Struktur tubuhnya mungkin memberikan petunjuk baru bagi para ilmuwan untuk mempelajari sejarah kehidupan burung dari zaman dinosaurus hingga burung modern.
Fosil tersebut ditemukan para paelontolog China dan Inggris dari tepian danau di sekitar hutan bagian utara Provinsi Hebei selama ekspedisi tahun 2005-2006. Para ilmuwan memberi nama Eoconfuciusornis zhengi yang berarti burung Konfusius.
“Eoconfuciusornis menyediakan potongan baru dalam teka-teki evolusi dari Archaeopteryx menjadi burung lebih maju,” ujar Zhou Zhong, salah satu penulis laporan penelitian tersebut dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology di Beijing.
Kondisinya fosil yang utuh mungkin karena burung tersebut tenggelam ke danau tersebut dan tertimbun endapan di dasar danau pada Era Cretaceous antara 120 juta tahun hingga 131 juta tahun. Selama jutaan tahun tertimbun, tubuhnya mengalami proses fosilisasi dan terjaga dalam endapan yang membatu.
Sosoknya sudah mirip sekali dengan burung modern dengan bentuk sayap berbulu dan susunan bulu ekor yang simetris. Warna bulunya bervariasi antara coklat dan hitam yang bisa jadi warna sebenarnya atau perubahan dari warna biru, merah, dan kuning seperti burung modern.
Karakteristiknya lebih mirip burung modern daripada Archaepteryx yang masih memiliki karakteristik fisik pada dinosaurus, seperti gigi dan tulang ekor yang panjang. Struktur tulang dan ototnya juga mendukung kemampuan manuver terbang lebih lincah. Namun, keduanya mungkin sama-sama memiliki kelemahan terbang dari permukaan tanah yang rata sehingga mudah diserang lawan.
Hewan tersebut mungkin hidup di pepohonan dan memiliki kuku dan bulu ekor panjang yang penting untuk membantu menyeimbangkan tubuh saat bertengger di dahan. Ia sepertinya lihai meluncur ke permukaan danau untuk menangkap ikan sebagai mangsanya.
Alislamu.com – Mantan menteri luar negeri Israel Silvan Shalom 

Alislamu.com – Ma’had as-Siyasah al-’Ailiyah pada Jum’at (15/5) berhasil mengungkap salah satu kasus aborsi di Eropa. Hasil temuan itu mengungkapkan, setiap 27 detik ada satu orang yang melakukan aborsi.
Alislamu.com – Seorang siswi asal Turki, 











