jump to navigation

Hari Raya Valentine’s Day Februari 21, 2008

Posted by spanautama in ENSIKLOPEDI I, KABAR KEAGAMAAN.
trackback
Hari Raya Valentine’s Day


Dikirim Oleh Redaksi || 05-02-2008 08:36

Tampilkan : 608

ImageSetiap bulan Februari, kita selalu menyaksikan media massa, mall-mall, pusat-pusat hiburan sibuk berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar pesta perayaan yang tidak jarang berlangsung hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine’s Day. Biasanya mereka saling mengucapkan “Selamat Hari Valentine”, berkirim kartu dan bunga, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta karena anggapan saat itu adalah “Hari Kasih Sayang”. Benarkah demikian?

Sejarah Valentine’s Day

Hari Valentine berasal dari masa jahiliyah Romawi kuno. Pada tanggal 13-18 Februari mereka mengadakan ritual penyucian, yang di antara rangkaiannya adalah Perayaan Lupercalia. Dua hari pertama, dipersembahkan untuk Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan laki-laki. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan meninggal 14 Februari. The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari.

Seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud. Juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena setiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Konon, menurut versi pertama, Kaisar Cladius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah Tuhan-Tuhan orang Romawi -Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan-. Orang-orang yang mendambakan doa St. Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya. Versi kedua diceritakan bahwa Kaisar Cladius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St. Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (Lihat: The Word Book Encyclopedia, 1998).


Hukum Merayakan Hari Valentine

Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir. Adapun bila ia tidak bermaksud demikian tetapi hanya ikut-ikutan maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar.

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah Rohimahullah berkata: “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat Hari Raya” dan “sejenisnya.”

 

Syaikh Al-Utsaimin Rohimahullah ketika ditanya tentang Valentine’s day mengatakan: “Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena:

Pertama: Ia merupakan hara raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam.

Kedua: Ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan yang sangat bertentangan dengan petunjuk para pendahulu kita yang shalih.

Maka tidak halal melakukan ritual Hari Raya baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah maupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang bodoh yang ikut-ikutan. Setiap orang yang telah mengucapkan dua kalimaht syahadat wajib melaksanakan aqidah wala’ dan bara’ (loyalitas kepada Islam dan kaum muslimin dan berlepas diri dari kekufuran dan kaum kafirin).

 

Sumber: Qiblati edisi 06 tahun II -Maret 2007 M / Shafar 1428 H
Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: