jump to navigation

Cuaca Cerah Sinyal Kawin Maret 25, 2008

Posted by spanautama in ANIMAL ACTION.
trackback
Cuaca Cerah Sinyal Kawin
Puyuh Jepang (Coturnix japonica)
Artikel Terkait:

JAKARTA, KAMIS – Musim kawin merupakan siklus yang berulang pada kebanyakan makhluk hidup. Bagaimana tubuh mengaturnya masih belum banyak dipelajari.

Proses tersebut mungkin sangat dipengaruhi cahaya. Perubahan cahaya yang terpapar ke tubuh dalam waktu lama menjadi sinyal ke otak untuk menentukan saatnya kawin. Inilah kesimpulan para peneliti setelah mempelajari perilaku burung puyuh Jepang yang tinggal di negara subtropis.

“Meskipun kami tahu di mana bagian otak yang terpengaruh perubahan musim, sampai sekarang kaami tidak mengetahui mekanisme yang sebenarnya terjadi,” ujar Peter Sharp, peneliti dari Roslin Institute, Edinburgh, Inggris, Rabu (19/3). Bersama Takashi Yoshimura dari Universitas Nagoya, Jepang, Sharp kemudian memindai 28.000 gen di otak burung dan mempelajari yang aktif saat tubuhnya terpapar cahaya dalam waktu berbeda-beda.

Hasilnya menunjukkan gen yang ada di sel-sel permukaan otak aktif setelah tubuh burung terpapar cahaya selama 14 hari. Mulai hari kelima belas, gen tersebut mengaktifkan produksi hormon yang merangsang kelenjar thyroid. Hormon tersebut sebelumnya hanya diketahui mengatur pertumuhan dan metabolisme tubuh. Namun, ternyata hormon ini merangsang kelenjar pituitary untuk memproduksi hormon lainnya, gonadotrophins, yang menyebabkan testis membesar sehingga libido meningkat. Proses ini menjelaskan mengapa burung jantan aktif berkicau begitu memsuki musim semi. Kicauan tertentu merupakan cara menarik perhatian lawan jenianya untuk kawin.

“Pengetahuan semacam ini mustahil di masa lalu, namun kemajuan teknologi membuat kami dapat memindai ribuan gen sehingga dapat mengungkap bagian mana yang terpengaruh perubahan musim,” ujar Sharp. Kini, tandasnya, kami telah mengidentifikasi kunci utama proses aktivitas otal ketika musim semi tiba.

Bagaimana pada manusia? Meski manusia tak mengenal musim kawin, kelak temuan ini mungkin dapat digunakan untuk mengembangkan obat atau terapi masalah kesuburan mengingat otak manusia memiliki sel-sel yang sama di bagian tersebut.(REUTERS/WAH)

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: