jump to navigation

Anak-Anak Muslim Yang Cerdas April 9, 2008

Posted by spanautama in TENTANG.
trackback

Oleh: DR. Amir Faishol Fath



Udara malam itu di Sanfrancisco masih sangat dingin. Kota yang indah ini memang terletak di tepi laut yang membentangkan kemaha-indahan Allah Sang Pencipta. Siapa pun yang datang ke kota ini akan terkagum dengan pemandangan alamnya. Sayangnya banyak orang yang diam di dalamnya tidak tahu cara mensyukuri keindahan tersebut. Mereka mengira bahwa untuk membalas nikmat yang demikian agung itu cukup hanya dengan tertawa-tawa, membuka aurat di tepi pantai, berfoto-foto, mabuk-mabukan dan lain sebagainya. Mereka mengira bahwa gedung-gedung tinggi menjulang yang mereka bangun itu sudah cukup sebagai bukti syukurnya kapada Allah. Mereka tidak tahu cara mensyukuri nikmat itu, sebab mereka tidak belajar tuntunan Allah Sang Pencipta. Mereka mengira itu cara bersyukur yang baik. Padahal itu menodai keindahan ciptaanNya. Mereka bingung, karena mereka sendiri tidak mau belajar bagaimana seharusnya hidup yang benar menurut Sang Pencipta. Sungguh Allah mempunyai tujuan yang sangat mulia dalam segala ciptaanNya. Tidak ada maksud Allah dalam menciptakan segala keindahan di muka bumi ini untuk kesia-siaan. Tidak mungkin Allah menciptakan alam yang sedahsyat ini, dengan tujuan agar manusia berfoya-foya dengan dosa-dosa.

Perhatikan di malam itu, ternyata aku menyaksikan kenyataan yang sangat luar biasa. Di sebuah rumah tempat aku bersinggah, aku mendengar suara seorang ibu sedang mengajarakan anaknya membaca Al Qur’an. Padahal ibu itu baru saja kembali dari tempat kerja. Dari wajahnya nampak rasa lelah yang masih belum hilang. Ibu itu telah mensyukuri keindahan kota dengan cara seperti yang Allah ajarkan. Ibu itu tidak suka kalau anaknya nanti tidak tahu tuntunan Allah. Dalam sebuah obrolan ibu itu berkata: “Aku tidak mau anakku seperti mereka yang bodoh itu. Aku takut kalau anakku nanti tersesat jalan. Karenanya akau harus bersungguh-sungguh mengejarkan anakku Al Qur’an”.

Memang kekhwatiran akan masa depan anak dari segi moral dan agama sering kali aku dengar dari beberapa keluarga muslim Indonesia di Amerika. Benar, secara pendidikan umum anak-anak mereka tidak akan kehilangan masa depan. Tetapi dari sisi moral dan agama mereka sangat khawatir. Karena itu mereka selalu berusaha untuk mengikutkan anak-anak mereka dalam program sekolah agama setiap hari Ahad “ Sunday School”. Kegiatan ini hampir merata. Tidak saja di kalangan umat Islam Indonesia, tetapi juga di kalangan umat Islam Amerika secara umum. Di beberapa kota yang sempat aku kunjungi seperti Houston, Denver, Los Angles, Washington, New York, Chicago dan Sanfrancisco, selalu aku temui penampilan anak-anak kecil membaca Al Qur’an. Mereka ternyata bisa tampil dengan sangat mengagumkan. Bahkan di sebagian kota seperti Denver ada anak-anak yang menampilkan lagu nasyid. Penampilan itu menambah cerah suasana malam Ramadhan. Di Houston ada perlombaan menulis artikel Islam tentang Ramadhan. Hasilnya memuaskan. Di Washinton anak-anak mereka sangat kritis. Ketika dibuka pertanyaan, ada yang bertanya: “Mengapa Allah mengutus nabi dari laki-laki saja kok tidak perempuan?”

Anak-anak kecil di Amerika memang dididik kritis dan berani. Karena itu, setiap mereka ditegur selalu bertanya: why? Karenanya orang tua mereka harus pandai memberikan alasan. Jika tidak, mereka tidak mau menerima teguran begitu saja. Memang banyak pengakuan dari orang tua: bahwa mereka seringkali sangat kerepotan untuk menjawab. Terutama jika masalahnya berkenaan dengan agama. Karena itu para orang tua di Amerika banyak yang semangat belajar ilmu agama. Mereka terdorong bukan saja karena harus menjawab pertanyaan sang anak yang sangat kritis, tetapi juga mereka harus memberikan contoh yang baik sesuai dengan tuntunan Islam. Contoh dalam bentuk perkataan dan perbuatan. Bagi para orang tua, Islam memang harus dipelajari. Tidak sedikit dari mereka yang menyesal mengapa dulu ketika masih muda tidak belajar Islam dengan sungguh-sungguh.

Memang semasa di Indonesia tantangan untuk belajar Islam tidak sedahsyat di Amerika. Di Indonesia mereka masih mendengar adzan, masih banyak orang berjilbab, masih banyak orang Islam, masih banyak pesantren dan sekolah Islam. Tetapi setelah mereka di Amerika, tidak bisa tidak mereka harus belajar Islam, tidak saja untuk diri mereka tetapi lebih dari itu untuk anak-anak mereka. Inilah gambaran bahwa Islam tidak boleh disepelekan. Bagaimana pun Islam tetap agama fitrah. Islam kebutuhan fitrah manusia. Manusia sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menghindar dari Islam. Sungguh akau katakan: “Kebutuhan manusia terhadap Islam sebenarnya seperti kebutuhan ikan terhadap air. Bila manusia tanpa Islam ia pasti mati jiwanya. Ia berjalan tanpa ruh. Tidak punya arah. Tidak tahu mau kemana harus melangkah”. Allahu a’lam bish shawab.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: